Di setiap tempat engkau menemukan kegelapan dalam hidupmu..
Tidak ada langkah yang tepat kecuali engkau nyalakan pelita dalam dirimu..
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muhasabah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Juni 2012
Bahagia
Seringkali..
Kita mencarinya terlalu jauh kemana-mana..
Padahal..
Bahagia itu dekat..
Ada pada setiap hati yang bersyukur..
Yaitu..
Hati yang bisa melihat dengan jelas deretan karunia yang Allah limpahkan kepadanya..
Bukan hati yang sibuk menghitung apa yang tidak dimiliki..
Terima kasih Allah untuk kemarin, hari ini dan nanti..
Kita mencarinya terlalu jauh kemana-mana..
Padahal..
Bahagia itu dekat..
Ada pada setiap hati yang bersyukur..
Yaitu..
Hati yang bisa melihat dengan jelas deretan karunia yang Allah limpahkan kepadanya..
Bukan hati yang sibuk menghitung apa yang tidak dimiliki..
Terima kasih Allah untuk kemarin, hari ini dan nanti..
Bersyukur
Bismillah...
Mari BERSYUKUR dalam setiap keadaan, karena nikmat Allah takkan pernah putus.
Kebahagiaan dan kesengsaraan merupakan ujian dan cobaan sebagai barometer peningkatan keimanan.
Sakit?
Mungkin Allah ingin menggugurkan dosa kita.
Sehat?
Mungkin Allah ingin kita banyak beribadah
Miskin?
Mungkin Allah ingin melihat usaha kita.
Kaya?
Mungkin Allah ingin kita dermawan membantu yang miskin.
Susah?
Mungkin Allah ingin kita jadi orang sabar.
Senang?
Mungkin Allah ingin kita mengucap Alhamdulillah.
Mari BERSYUKUR dalam setiap keadaan, karena nikmat Allah takkan pernah putus.
Kebahagiaan dan kesengsaraan merupakan ujian dan cobaan sebagai barometer peningkatan keimanan.
Sakit?
Mungkin Allah ingin menggugurkan dosa kita.
Sehat?
Mungkin Allah ingin kita banyak beribadah
Miskin?
Mungkin Allah ingin melihat usaha kita.
Kaya?
Mungkin Allah ingin kita dermawan membantu yang miskin.
Susah?
Mungkin Allah ingin kita jadi orang sabar.
Senang?
Mungkin Allah ingin kita mengucap Alhamdulillah.
Sabtu, 21 April 2012
DAY
Hari ini adalah anugerah..
Kemarin adalah sejarah..
Besok adalah misteri..
Semalam, tiba-tiba dapat kiriman sms dengan kata-kata di atas dari seorang teman lama yang saya kenal waktu ikut kegiatan TOP 5 (Training Optimalisasi Potensi) di Villa Panderman, Batu. Walaupun saya sudah sering mendengar ataupun mengucapkan kata-kata itu, tapi baru kali ini saya benar-benar merenungkan dan menuliskan hasil renungan saya ini. Maklum, saya malas kalau sudah disuruh tulis-menulis. Namun, renungan saya ini juga yang memberanikan diri saya untuk mulai menulis. Kalian bisa lihat sendiri isi blog saya ini kebanyakan mengambil dari sumber-sumber yang saya baca. ;)
Hari ini adalah anugerah..
Betapa tidak! Bayangkan saya andaikan hari ini kita sudah tidak dapat menghirup udara segar di pagi hari, beraktivitas, bertemu rekan sejawat. Selayaknyalah kita mengatakan HARI INI ADALAH ANUGERAH YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA. Tahukah bahwa hidup kita di dunia ini hanya sesaat dibandingkan dengan kehidupan setelah dunia ini..??Ya, hanya sesaat saja kehidupan di dunia. Maka, ketika kita masih diberikan anugerah ini, kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mendapatkan tempat yang indah di akhirat kelak.
Kemarin adalah sejarah..
Ya! Seburuk apapun hari kemarin, itu hanya sejarah, masa lalu. Kita tak dapat mengubahnya. Maka, gunakanlah ia sebagai pengingat bagi kita untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi. Gunakanlah ia sebagai pelajaran berharga untuk memilih masa depan yang kita inginkan.Jika pilihan kita kemarin ternyata salah, maka kita dapat memilih lagi hari ini dengan pilihan yang benar. Right?
Kemarin adalah sejarah..
Besok adalah misteri..
Semalam, tiba-tiba dapat kiriman sms dengan kata-kata di atas dari seorang teman lama yang saya kenal waktu ikut kegiatan TOP 5 (Training Optimalisasi Potensi) di Villa Panderman, Batu. Walaupun saya sudah sering mendengar ataupun mengucapkan kata-kata itu, tapi baru kali ini saya benar-benar merenungkan dan menuliskan hasil renungan saya ini. Maklum, saya malas kalau sudah disuruh tulis-menulis. Namun, renungan saya ini juga yang memberanikan diri saya untuk mulai menulis. Kalian bisa lihat sendiri isi blog saya ini kebanyakan mengambil dari sumber-sumber yang saya baca. ;)
Hari ini adalah anugerah..
Betapa tidak! Bayangkan saya andaikan hari ini kita sudah tidak dapat menghirup udara segar di pagi hari, beraktivitas, bertemu rekan sejawat. Selayaknyalah kita mengatakan HARI INI ADALAH ANUGERAH YANG DIBERIKAN ALLAH KEPADA KITA. Tahukah bahwa hidup kita di dunia ini hanya sesaat dibandingkan dengan kehidupan setelah dunia ini..??Ya, hanya sesaat saja kehidupan di dunia. Maka, ketika kita masih diberikan anugerah ini, kita manfaatkan sebaik mungkin untuk mendapatkan tempat yang indah di akhirat kelak.
Kemarin adalah sejarah..
Ya! Seburuk apapun hari kemarin, itu hanya sejarah, masa lalu. Kita tak dapat mengubahnya. Maka, gunakanlah ia sebagai pengingat bagi kita untuk tidak melakukan hal buruk itu lagi. Gunakanlah ia sebagai pelajaran berharga untuk memilih masa depan yang kita inginkan.Jika pilihan kita kemarin ternyata salah, maka kita dapat memilih lagi hari ini dengan pilihan yang benar. Right?
Selasa, 24 Januari 2012
Aku Malu jadi Guru
Update Status Guru
Guru, yang selalu jadi nomor kedua setelah ibu dan bapaknya yang di sebutkan oleh anak-anak TK dan SD dengan kata-katanya yang begitu berpengaruh. Status ini selalu menjadikan saya bangga dengan sebutan itu, tapi kini...luntur...lebur...bersama semilirnya anak-anak SMP dan SMA yang saya didik akhirnya menjadi pelacur dan penghibur, bahkan setelah mereka alumni, mereka siap menjadi penganggur...
Malu Jadi Guru...
Walaupun sudah lama bergelut dengan anak-anak yang notabenenya sebagai pendidik, tapi baru terasa sekarang kalau aku pendidik yang tak terdidik. Ya, baru terasa sekarang kawan!! Di mana aku harus bergulat dan bergelut dengan aturan-aturan yang mengorbankan apa yang telah aku katakan pada anak-anakku dalam belajar.
Senin, 16 Januari 2012
SAYA INI SEDANG FUTUR........
Saya Ini Sedang Futur....:(
________________________________________
kalo ada yg sudah baca, alhamdulillah, bagi yg belum...bisa jadi tausiyah nih... :)
SAYA INI... SEDANG FUTUR
saya ini sedang futur
terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekan
dengan alasan klasik kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah,inilah,itulah
saya ini sedang futur
jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
________________________________________
kalo ada yg sudah baca, alhamdulillah, bagi yg belum...bisa jadi tausiyah nih... :)
SAYA INI... SEDANG FUTUR
saya ini sedang futur
terbukti dengan ogah-ogahan datang ke pengajian tiap pekan
dengan alasan klasik kuliahlah, lelahlah, kerjalah, sibuklah,inilah,itulah
saya ini sedang futur
jarang baca buku tentang Islam, lagi demen baca koran
Jumat, 16 Desember 2011
Bercermin Pada Kepahlawanan Shahabiyat
Oleh : Najmah Saiidah
Kita semua sudah mengenal nama-nama seperti Abubakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khoththob, Utsman bin ‘Affan, Saad bin Abi Waqosh, Muadz bin Jabal, Salman Al-Farisi dan sebagainya. Mereka adalah para pahlawan muslim yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah dan RasulNya dan memperjuangkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi sebagian umat Islam kurang mengenal para`perempuan yang mereka juga hidup di masa Rasulullah (shahabiyat) yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah dan RasulNya dan memiliki andil besar`dalam memperjuangkan Islam dan kaum muslimin. Di antaranya Khadijah binti Khuwailid, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Sulaim, dan banyak lagi yang lainnya.
Kita semua sudah mengenal nama-nama seperti Abubakar Ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, Umar bin Khoththob, Utsman bin ‘Affan, Saad bin Abi Waqosh, Muadz bin Jabal, Salman Al-Farisi dan sebagainya. Mereka adalah para pahlawan muslim yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah dan RasulNya dan memperjuangkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi sebagian umat Islam kurang mengenal para`perempuan yang mereka juga hidup di masa Rasulullah (shahabiyat) yang telah mengorbankan waktu, harta, jiwa dan raganya untuk menegakkan kalimat Allah dan RasulNya dan memiliki andil besar`dalam memperjuangkan Islam dan kaum muslimin. Di antaranya Khadijah binti Khuwailid, Asma’ binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Ummu Sulaim, dan banyak lagi yang lainnya.
12 Nasehat Kepada Ukhti Muslimah
Ukhti Muslimah .................
1. Jauhilah olehmu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan jagalah lisanmu.
Sesungguhnya Allah berfirman:
"Tiada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (An-Nisa':114)
1. Jauhilah olehmu banyak bicara (yang tidak bermanfaat) dan jagalah lisanmu.
Sesungguhnya Allah berfirman:
"Tiada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia." (An-Nisa':114)
Ketahuilah bahwa di sana ada orang yang menghisab pembicaraanmu dan menghitungnya atasmu.
Ringkaslah pembicaranmu, dan bicaralah sebatas maksud dan tujuanmu!
Ringkaslah pembicaranmu, dan bicaralah sebatas maksud dan tujuanmu!
Sabtu, 16 Oktober 2010
DIBALIK SEBUTIR NASI
“Sesungguhnya mubadzir ( pemborosan ) itu saudara-saudara syaithan”. (Isro' / 27)
Terfikirkah oleh kita bahwa ketika sebuah hidangan telah siap di meja dan siap untuk kita nikmati, ada sekian banyak faktor pendahulu yang mesti menjadi renungan bagi kita semua agar rasa syukur kita kepada Allah SWT makin terasah dan berkualitas.
Ada sekian banyak petani yang banting tulang peras keringat untuk membajak, menanam dan mengairi sawah untuk sepiring nasi dan semangkuk sayur kita, ada para peternak yang dengan penuh kesabaran memelihara hewan ternaknya untuk sekerat lauk buat kita, ada sekian banyak kuli panggul, tukang masak, dan para buruh lainnya yang siap memberikan pelayanan untuk kepuasan kita. Dan masih banyak faktor lain yang perlu kita cari dan kita renungkan.
berikut ini kisah yang akan memicu kita menjadi hamba yang sangat mensukuri nikmat Allah SWT.
Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil, sang raja mempunyai seorang putra yang sangat di manjakan. Merasa sebagai anak semata wayang sekaligus putra mahkota kerajaan, dia tumbuh menjadi remaja yang urakan, tidak tahu sopan santun dan tidak mau menghargai orang lain. Ia bahkan suka melecehkan para pengasuhnya. Karena itu, pangeran kecil ini di benci dan dihindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.
Walau di benci dan di jauhi, pangeran kecil ini masih punya satu-satunya sahabat seusia yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam istana, maka sang pangeran kecillah yang biasanya datang bermain ke rumah si bocah.
Suatu hari, pangeran kecil meminta bocah untuk menemaninya makan siang di ruang makan istana. Bukan menemani makan, tetapi berdiri manis menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan, pangeran kecil terlihat menundukkan kepala sambil mulutnya berkomat-kamit seolah sedang berdoa. Sejenak kemudian, pangeran kecil mulai melahap hidangan yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan yang enak, enak dan mahal dicicipi. Sang Pangeran bersantap sambil bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan semua makanan di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan menggigit makanannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya.
Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat kelakuan sahabatnya. “Hei..!! Apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu tertawa seperti itu dihadapanku? Kamu iri melihat aku makan enak?” teriak pangeran kecil. “ Tidak, tidak ada apa-apa…,” jawab si bocah. “Kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?” tanya sang pangeran sengit. ”Pangeran jangan cepat marah. Hamba sungguh senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pengeran ucapkan dalam doa tadi?” tanya si bocah.
“Walaupun aku seorang pangeran, aku juga orang beragama. Di agamaku sejak kecil diajarkan, supaya setiap hendak makan mengucapkan doa terimakasih kepada yang maha kuasa, atas pemberian makanan yang dihidangkan untukku,” jelas sang pangeran dengan bangga. Si bocah kecil tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian,”menurut pendapat hamba yang mulia, rasa syukur dan terimakasih itu akan lebih berarti bila ditujukan juga kepada orang-orang yang telah menyediakan semua bahan makanan, dan memasak hingga tersaji hidangan di meja ini,” kata si bocah.”Lihatlah sisa makanan yang berceceran di piring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?” “Apa maksud kata-katamu itu? Aku ‘kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa saja sesuai kehendakku…” kilah sang pangeran.
Tanpa banyak mendebat si bocah tadi mengajak Sang Pangeran menuju ke dapur istana untuk melihat para pekerja dapur yang begitu sibuk menyiapakan makanan serta membuat berbagai macam masakan. Saat mereka berkeliling, dari pintu belakan istana tampak seorang petani sedang membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. Pangeran kecil menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa, ”Hai, paman. Terima kasih atas persembahanmu, bagaimana panen padi kali ini?” tanya sang pangeran berlagak bijak. ”Panen kali ini buruk sekali, Tuan,” jawab si petani ketakutan. ”Sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak, menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia. Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami karena hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini, hanya itu yang kami punya.
Karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan anak istri kami,” ujarnya sambil menghela nafas panjang.
Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tesentak dan baru tersadar. Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan.Sementara dirinya malah menyia-nyiakan dan membuang-buang makanan yang begitu berharga. Sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu karena merasa malu pada diri sendiri. Sejak peristiwa itu, tingkah laku pengeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri, ”jangan sisakan sebutir nasipun di piringmu…!”
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)
Mulai saat ini jika masih ada tersisa hidangan di piring kita, ingatlah masih ada jutaan saudara kita yang masih kekurangan gizi dan makanan.
Terfikirkah oleh kita bahwa ketika sebuah hidangan telah siap di meja dan siap untuk kita nikmati, ada sekian banyak faktor pendahulu yang mesti menjadi renungan bagi kita semua agar rasa syukur kita kepada Allah SWT makin terasah dan berkualitas.
Ada sekian banyak petani yang banting tulang peras keringat untuk membajak, menanam dan mengairi sawah untuk sepiring nasi dan semangkuk sayur kita, ada para peternak yang dengan penuh kesabaran memelihara hewan ternaknya untuk sekerat lauk buat kita, ada sekian banyak kuli panggul, tukang masak, dan para buruh lainnya yang siap memberikan pelayanan untuk kepuasan kita. Dan masih banyak faktor lain yang perlu kita cari dan kita renungkan.
berikut ini kisah yang akan memicu kita menjadi hamba yang sangat mensukuri nikmat Allah SWT.
Dikisahkan di sebuah kerajaan kecil, sang raja mempunyai seorang putra yang sangat di manjakan. Merasa sebagai anak semata wayang sekaligus putra mahkota kerajaan, dia tumbuh menjadi remaja yang urakan, tidak tahu sopan santun dan tidak mau menghargai orang lain. Ia bahkan suka melecehkan para pengasuhnya. Karena itu, pangeran kecil ini di benci dan dihindari oleh para pengasuh maupun pegawai istana lainnya.
Walau di benci dan di jauhi, pangeran kecil ini masih punya satu-satunya sahabat seusia yang setia kepadanya, yaitu si bocah laki-laki anak dari si juru masak istana. Si bocah tinggal di bangunan kecil jauh di belakang istana kerajaan. Karena dilarang menginjakkan kakinya ke dalam istana, maka sang pangeran kecillah yang biasanya datang bermain ke rumah si bocah.
Suatu hari, pangeran kecil meminta bocah untuk menemaninya makan siang di ruang makan istana. Bukan menemani makan, tetapi berdiri manis menunggui sambil melihat sang pangeran makan. Sesaat sebelum makan, pangeran kecil terlihat menundukkan kepala sambil mulutnya berkomat-kamit seolah sedang berdoa. Sejenak kemudian, pangeran kecil mulai melahap hidangan yang tersaji di meja makan. Semua jenis makanan yang enak, enak dan mahal dicicipi. Sang Pangeran bersantap sambil bertingkah seperti orang yang sedang kelaparan dan ingin menghabiskan semua makanan di atas meja. Kadang ia hanya mencuil dan menggigit makanannya, lalu memuntahkan dan membuang sisanya di meja. Meja makan jadi berantakan dan sisa-sisa makanan berserakan di mana-mana. Sang pangeran seperti sedang mengolok-olok sahabatnya yang hanya berdiri memandanginya.
Tapi bukannya merasa dihina, si bocah kecil itu malah tersenyum-senyum sedari tadi. Pangeran kecil pun jadi tersinggung dan marah melihat kelakuan sahabatnya. “Hei..!! Apa yang kamu tertawakan? Beraninya kamu tertawa seperti itu dihadapanku? Kamu iri melihat aku makan enak?” teriak pangeran kecil. “ Tidak, tidak ada apa-apa…,” jawab si bocah. “Kalau tidak ada apa-apa, mengapa kamu tertawa? Apanya yang lucu?” tanya sang pangeran sengit. ”Pangeran jangan cepat marah. Hamba sungguh senang dan tidak menyangka sama sekali, bahwa seorang pangeran pun ternyata juga berdoa sebelum makan. Apa yang pengeran ucapkan dalam doa tadi?” tanya si bocah.
“Walaupun aku seorang pangeran, aku juga orang beragama. Di agamaku sejak kecil diajarkan, supaya setiap hendak makan mengucapkan doa terimakasih kepada yang maha kuasa, atas pemberian makanan yang dihidangkan untukku,” jelas sang pangeran dengan bangga. Si bocah kecil tetap saja tersenyum-senyum. Tapi kali ini ia berani berkata demikian,”menurut pendapat hamba yang mulia, rasa syukur dan terimakasih itu akan lebih berarti bila ditujukan juga kepada orang-orang yang telah menyediakan semua bahan makanan, dan memasak hingga tersaji hidangan di meja ini,” kata si bocah.”Lihatlah sisa makanan yang berceceran di piring dan meja itu. Perlu berapa orang untuk membuat itu semua?” “Apa maksud kata-katamu itu? Aku ‘kan seorang pangeran yang boleh berbuat apa saja sesuai kehendakku…” kilah sang pangeran.
Tanpa banyak mendebat si bocah tadi mengajak Sang Pangeran menuju ke dapur istana untuk melihat para pekerja dapur yang begitu sibuk menyiapakan makanan serta membuat berbagai macam masakan. Saat mereka berkeliling, dari pintu belakan istana tampak seorang petani sedang membawa sekarung beras sebagai hantaran wajib ke istana. Pangeran kecil menyapa si petani bak seorang raja yang berkuasa, ”Hai, paman. Terima kasih atas persembahanmu, bagaimana panen padi kali ini?” tanya sang pangeran berlagak bijak. ”Panen kali ini buruk sekali, Tuan,” jawab si petani ketakutan. ”Sudah tiga bulan kami bekerja keras, dari membajak, menanam, mengairi sawah sampai memupuk tanaman, tapi hasilnya sia-sia. Sawah ladang dihancurkan tikus dan hama wereng. Jadi, ampuni kami karena hanya mampu mempersembahkan sekarung beras ini, hanya itu yang kami punya.
Karena kami pun belum tahu bagaimana memberi makan anak istri kami,” ujarnya sambil menghela nafas panjang.
Mendengar jawaban itu, pangeran kecil tesentak dan baru tersadar. Ternyata rakyatnya sangat menderita dan terancam kelaparan.Sementara dirinya malah menyia-nyiakan dan membuang-buang makanan yang begitu berharga. Sang pangeran kecil kemudian lari meninggalkan tempat itu karena merasa malu pada diri sendiri. Sejak peristiwa itu, tingkah laku pengeran kecil berubah total. Ia menjadi anak yang sopan dan mau menghargai orang lain. Setiap kali makan, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri, ”jangan sisakan sebutir nasipun di piringmu…!”
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS 14:7)
Mulai saat ini jika masih ada tersisa hidangan di piring kita, ingatlah masih ada jutaan saudara kita yang masih kekurangan gizi dan makanan.
Sabtu, 25 September 2010
Semoga Allah Menunjukkan Jalan Keimanan dan Menjauhkan dari Jalan Kekufuran
Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Jalan Keimanan, adalah jalan mengikuti Allah, Rasul, dan orang orang yang mengikutinya. Mereka itulah orang yang diberi nikmat oleh Allah Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni'mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin , orang-orang yang mati syahid dan orang2 saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
Jalan kekufuran, adalah jalan menjauhi Allah, mengikuti jalan-jalan setan dan orang-orang yang mengikutinya.Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. Yang demikian adalah karena sesungguhnya orang-orang kafir mengikuti yang batil dan sesungguhnya orang-orang yang beriman mengikuti yang benar dari Rabb mereka. Demikianlah Allah membuat untuk menusia perbandingan-perbandingan bagi mereka.
Setelah menjalani hidup di dunia, manusia seluruhnya (bahkan seluruh alam) akan kembali kepada Allah SWT. Allah adalah akhir perjalanan hidup manusia dan Dia-lah yang menciptakan kamu pada kali yang pertama dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan". Jika telah menjalankan hidup dengan benar, membawa bekal yang baik, akan menghadap dengan wajah berseri-seri. Jika sebaliknya akan menghadap dengan malu dan wajah yang hitam
pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka kekal di dalamnya.
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Rabb-nya.
Karena sesungguhnya azab Rabb mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tidak tercela.
Barangsiapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. Wallahu a'lam.
Langganan:
Postingan (Atom)
